Wednesday, March 20, 2013

Sumbangsih Anthony Giddens dan Erving Goffman terhadap Ilmu Politik.


Sumbangsih Anthony Giddens dan Erving Goffman terhadap Ilmu Politik.



A.    Anthony Giddens
Anthony Giddens merupakan seorang sosiolog dari London yang terkenal berkat pengembangan teori stukturasi yang mengkritik adanya teori fungsionalisme dari Talcott Parsons. Giddens mengandaikan ada 3 hal utama yang menyebabkan teori fungsionalisme layak dikritik.
Pertama, fungsionalisme mengandaikan manusia sebagai pelaku yang harus taat dengan tindakannya dan seolah semua yang dilakukan harus sesuai dengan peran yang sudah ditentukan. Kedua, fungsionalisme memandang bahwa sistem sosial memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar ia langgeng menjadi sistem sosial. Ketiga, fungsionalisme membuang dimensi waktu (time) dan ruang (space) dalam menjelaskan gejala sosial[1].
            Selain mengkritik teori fungsionalisme dari Talcott Parsons, Anthony Giddens juga mengkritik teori strukturalisme dari Claude Levi-Strauss. Dalam strukturalisme mempelajari tentang suatu ‘kode tersembunyi’ sebagai struktur yang bisa memaksa aktor untuk bertindak, contohnya adalah mengapa masyarakat gemar untuk membeli perhiasan emas, bisa saja karena masyarakat menganggap emas dapat menjadi investasi yang menjanjikan, bisa saja masyarakat hanya menggunakannya untuk bahan pamer atau sebagainya.
Inti dalam pembahasan ini adalah Giddens tidak setuju dengan dualisme struktur dan pelaku, namun ia lebih menekankan apa yang ia sebut dengan dualitas. Atas fakta struktur dan pelaku bukanlah sesuatu yang saling menegasikan atau bertentangan, tapi keduanya saling mengandaikan[2].
            Dalam teorinya, Giddens membagi pemikirannya dalam 2 pokok pembahasan yaitu pelaku dan struktur sebagai bahasan pertama serta waktu dan ruang sebagai bahasan kedua.
Pelaku adalah orang-orang yang kongkrit dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia. Struktur dalam pengertian Giddens bukanlah totalitas gejala, bukan ‘kode tersembunyi’ khas strukturalisme, cara produksi marxis, bukan sebagian dari totalitas gejala khas fungsionalisme. Struktur adalah aturan (rules) dan sumberdaya (resources) yang terbentuk (dan membentuk) dari perulangan praktik sosial. Dualitas struktur dan pelaku merupakan hasil sekaligus sarana suatu praktik sosial[3].
Dari pengertian ini, teori stukturasi dibangun dengan mengandaikan sebuah proses yang terjadi dan memungkinkan terjadinya perulangan untuk membentuk perilaku sosial.
Ruang dan waktu adalah sebuah petunjuk untuk menentukan bagaimana suatu perilaku sosial terjadi. Ruang dan waktu merupakan unsur yang terkandung dan terkait langsung dalam berlangsungnya suatu tindakan sosial. Dalam teori strukturasi Giddens, menegaskan bahwa unsur ruang dan waktu memiliki peran yang sangat penting, penambahan akhiran –asi dalam kata strukturasi memiliki makna bahwa penegasan akan proses yang sedang tejadi, contohnya adalah perayaan tahun baru di Indonesia pastinya berbeda dengan perayaan tahun baru di Amerika karena adanya perbedaan unsur ruang dan waktu antar kedua negara tersebut yang menyebabkan perbedaan perilaku sosial di kedua negara tersebut.


B.     Erving Goffman
            Erving Goffman adalah seorang sosiolog Amerika kelahiran Kanada yang telah memiliki banyak pengalaman di bidangnya. Salah satu teorinya yang terkenal adalah Konsep Dramaturgi, yaitu sebuah analogi dimana Goffman memandang kehidupan sosial merupakan pertunjukan drama pentas. Menurut Goffman, diri bukanlah milik aktor, melainkan hasil interaksi dramatis antara aktor dan audiens[4].
Dalam konsep Goffman, ia menekankan akan pentingnya sebuah Setting untuk mengatur peran seseorang saat diperankan dalam Front Stage maupun Back Stage. Front Stage adalah bagian pertunjukan yang umumnya berfungsi secara pasti dan umum untuk mendefinisikan situasi bagi orang yang menyaksikan pertunjukan[5]. Dalam tampilan ini, para pemain yang berperan dituntut untuk memberikan kesan terbaiknya terhadap audiens meskipun sikap tersebut bukanlah sikap yang biasa ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penampilannya, dibutuhkan Setting yaitu pemandangan fisik yang biasanya harus ada jika aktor memainkan perannya serta Front Personal yang berarti berbagai macam barang perlengkapan yang bersifat menyatukan perasaan yang memperkenalkan audiens dengan aktor dan perlengkapan itu diharapkan audiens dimiliki oleh aktor[6].

Konsep Framing : Stereotipe, Stigma, dan Analisis Framing
Dalam perkembangannya, Goffman membuat 2 kategori tentang stigma, yaitu orang yang direndahkan (stigma diskredit) dan orang yang dapat direndahkan (discreditable stigma). Orang yang direndahkan ialah orang yang memiliki kekurangan yang kasat mata, seperti orang buta, orang kerdil, dsb. Sedangkan orang yang dapat direndahkan memiliki aib yang tak kasat mata, seperti pengangguran, orang gila, dsb.
Stereotipe merupakan generalisasi atas status seseorang berdasarkan kelompok atau grup yang diikutinya, sebagai contoh, seorang anak yang baik namun apabila tinggal di lingkungan yang kriminal, tentu akan membuat orang lain waspada untuk bergaul dengannya.
Analisis framing merupakan definisi situasi yang dibentuk sesuai dengan prinsip-prinsip organisasi yang mengatur peristiwa-peristiwa, paling tidak peristiwa sosial, dan keterlibatan subyetif kita di dalamnya. Dengan arti, kita belajar memaknai suatu peristiwa dan realitas  sesuai dengan pengalaman yang telah kita dapatkan dalam suatu organisasi sosial masyarakat yang kemudian menjadi tindakan kita[7].





Daftar Pustaka

Johnson, Doyle Paul.1986.Teori Sosiologi Klasik dan Modern 2.Jakarta:Rajawali Press.
Poloma, Margaret M.1979.Sosiologi Kontemporer.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Priyono, B. Herry.2000.Sebuah Terobosan Teoritis.Jakarta:Basis.
Ritzer, George.2003.Teori Sosiologi Modern.Jakarta : Kencana Prenada Media Group.



[1] Herry Priono, “Sebuah Terobosan Teoritis”, hal. 10
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern 2.
[5] George Ritzer, Teori Sosiologi Modern.
[6] Ibid.
[7] Margaret Poloma, Sosiologi Kontemporer.

No comments:

Post a Comment